Batu, Mei 2025 — Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang kembali menorehkan prestasi membanggakan di ajang Pemilihan Duta Kampus 2025. Untuk tahun kedua berturut-turut, FKIK sukses melahirkan pemenang utama Duta Kampus, memperkuat peran strategis duta fakultas sebagai cikal bakal representatif di tingkat universitas.
Tahun ini, gelar prestisius tersebut diraih oleh Dina Aulia Rahma, mahasiswa FKIK yang sebelumnya menjabat sebagai Winner Safirah FKIK 2024. Baginya, peran sebagai duta kampus bukan sekadar simbolik, tetapi tanggung jawab besar dalam menjadi jembatan antara kampus dan masyarakat. “Kesiapan mental dan kemampuan public speaking adalah kunci. Saya bersyukur memiliki pengalaman sebelumnya sebagai Duta FKIK karena disana lah banyak membentuk karakter saya dalam menghadapi berbagai tantangan di panggung universitas,” ungkap gadis yang lahir 5 Mei tersebut.
Lebih dari itu, Dina memandang gelar duta kampus sebagai ruang kontribusi dan pengembangan diri. “Menjadi duta berarti menjadi wajah kampus. Kita terdorong untuk terus belajar, berpikir kritis, dan memberi dampak positif bukan hanya tampil, tapi juga berkontribusi secara nyata,” tambahnya.
Salah satu finalis yang semula Safir FKIK, Revandi Iman Firmansyah juga membagikan pandangan serupa. “Banyak manfaat yang saya dapatkan, mulai dari relasi baru, wawasan yang lebih luas, hingga insight dari lingkungan baru yang sangat mendorong pertumbuhan pribadi,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya riset isu-isu aktual sebagai bentuk kesiapan intelektual seorang duta.
Dalam proses karantina, para finalis dibekali berbagai keterampilan mulai dari public speaking, etika komunikasi, hingga catwalk dan simulasi diskusi isu kampus. “Saya jadi lebih mengenal UIN tidak hanya dari sisi akademiknya, tapi juga sejarah, nilai-nilai, dan peran strategisnya di tengah masyarakat,” ujar Dina.
Kesuksesan beruntun FKIK dalam mencetak duta kampus tidak lepas dari peran pembinaan yang konsisten yakni melalui Safir Safirah FKIK. Larasati Sekar Kinasih, M.Gz, selaku pembina menekankan bahwa duta bukan dipilih karena sempurna, tapi karena punya kemauan untuk terus bertumbuh. “Nilai yang kami tekankan adalah adab, integritas, kedisiplinan, dan empati. Duta FKIK harus tahu bahwa mereka diberi panggung bukan hanya untuk berbicara, tapi juga untuk mendengar dan memberi dampak,” tegasnya.
Ia juga menyoroti tantangan utama para duta, yaitu manajemen waktu antara akademik dan peran representatif. Namun menurutnya, tantangan itulah yang menjadikan mereka lebih tangguh. “Dari pengalaman mendampingi para duta, saya melihat peluang besar terbuka seperti berjejaring dengan tokoh nasional maupun internasional, mengikuti pelatihan, hingga berinteraksi langsung dengan tamu kehormatan fakultas,” jelasnya.
Menutup pernyataannya, Larasati memberi pesan mendalam, “Panggung ini bukan tentang kamu. Tapi tentang siapa yang bisa kamu bantu dan bangkitkan. Jadilah duta yang tak hanya tampil, tapi juga melayani. Karena yang diingat nanti bukan hanya apa yang kamu raih, tapi apa yang kamu beri.”
Ajang Duta Kampus UIN Malang tahun ini bukan hanya mencerminkan kualitas individu, tetapi juga menunjukkan keberhasilan fakultas dalam membentuk generasi representatif yang berpadu antara kecakapan intelektual, karakter Islami, dan semangat pengabdian. Melalui Safir-Safirah FKIK, peran fakultas dalam mencetak representatif kampus pun kian nyata.
Kontributor : Jasmine Athiyya (PSSF 23)





