BATU – Suasana khidmat dan penuh haru menyelimuti Aula Gedung Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang pada Selasa, 21 April 2026. FKIK secara resmi menggelar acara Pelepasan Calon Jamaah Haji dan Tenaga Kesehatan Haji Indonesia (TKHI/PPIH) Tahun 1447 Hijriah.
Acara ini menjadi momentum istimewa bagi keluarga besar FKIK UIN Malang, mengingat tahun ini sejumlah dosen dan tenaga kependidikan tidak hanya berangkat sebagai tamu Allah (dhuyufurrahman), tetapi juga sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan bagi jamaah haji Indonesia di tanah suci.
Tahun ini, keluarga besar FKIK UIN Malang melepas keberangkatan para dosen yang akan menunaikan rukun Islam kelima. Adapun para dosen yang berangkat sebagai calon jamaah haji adalah apt. Abdul Hakim, S.Si., M.PI., M.Farm. dan Dr. drg. Risma Aprinda Kristanti, M.Si. Sementara itu, Dr. dr. Avin Ainur Fitrianingsih, M.Biomed. turut berangkat untuk mengemban amanah mulia sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi.

Panggilan Kehormatan dan Pensucian Diri
Dalam sambutannya yang menyentuh, Dekan FKIK UIN Maliki Malang, Prof. Dr. dr. Yuyun Yueniwati P.W., Sp.Rad(K), menegaskan bahwa keberangkatan para jamaah tahun ini merupakan buah dari undangan langsung Sang Khalik. Mengutip Al-Qur’an Surat Al-Hajj ayat 27, beliau mengingatkan bahwa haji adalah seruan ilahi yang menggerakkan umat dari segenap penjuru dunia.
“Ayat ini mengingatkan kita bahwa ibadah haji adalah panggilan langsung dari Allah SWT. Maka, kehadiran Bapak/Ibu sebagai calon jamaah haji hari ini bukanlah sekadar rencana manusia, melainkan undangan kehormatan dari Allah Rabbul ‘Alamin,” ujar Prof. Yuyun di hadapan para hadirin.
Beliau juga menekankan pentingnya menjaga esensi haji sebagai perjalanan transformasi spiritual. Merujuk pada hadis riwayat Bukhari dan Muslim, Prof. Yuyun menjelaskan bahwa output dari haji yang mabrur adalah kembalinya seseorang dalam keadaan fitrah, suci laksana bayi yang baru lahir.
“Haji adalah perjalanan pensucian diri—bukan hanya fisik, tetapi juga hati, niat, dan amal. Kami berpesan kepada seluruh calon jamaah untuk meluruskan niat semata-mata lillahi ta’ala, memperbanyak dzikir, menjaga lisan, serta menumbuhkan kesabaran dalam setiap rangkaian ibadah,” tambahnya.
Kesehatan sebagai Amanah dan Ladang Pengabdian
Sebagai pimpinan fakultas kedokteran, Prof. Yuyun memberikan penekanan khusus pada aspek kesehatan. Beliau mengingatkan bahwa fisik yang prima adalah instrumen utama dalam menjalankan rukun dan wajib haji yang menguras energi.
“Kesehatan adalah amanah. Ibadah yang kuat membutuhkan jasad yang kuat. Oleh karena itu, menjaga kesehatan adalah bagian dari ikhtiar ibadah itu sendiri,” tegasnya.
Pesan mendalam juga ditujukan bagi yang bertugas sebagai Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) bidang kesehatan. Beliau menitipkan amanah besar agar mereka menjalankan tugas dengan penuh kasih sayang. Menurutnya, melayani jamaah yang sedang sakit atau membutuhkan bantuan di tanah suci adalah bentuk pengabdian tertinggi.
“Jadikan pelayanan kepada jamaah sebagai ladang ibadah. Ingatlah bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” pesan Prof. Yuyun menutup sambutannya.

Mauidhoh Hasanah: Filosofi Wukuf dan Persamaan Derajat
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi mauidhoh hasanah yang disampaikan oleh Dr. Ach. Nasichuddin, MA. Dalam tausiyahnya, beliau memaparkan secara detail mengenai rukun-rukun haji yang harus dipenuhi agar ibadah tersebut sah secara syariat.
Fokus utama penyampaian Dr. Nasichuddin tertuju pada puncak ibadah haji, yakni Wukuf di Arafah. Beliau menjelaskan bahwa wukuf adalah miniatur Padang Mahsyar, di mana ego dan atribut keduniawian dilepaskan sepenuhnya.
“Puncak dari segala ibadah haji adalah wukuf. Di sanalah kita melihat keagungan Islam, di mana semua manusia berdiri sejajar. Tidak ada jabatan, tidak ada gelar profesi, tidak ada strata sosial. Semua mengenakan pakaian ihram yang sama—dua lembar kain putih tanpa jahitan,” urai Dr. Nasichuddin.
Beliau menambahkan bahwa kain ihram yang sederhana tersebut melambangkan kesucian dan kesetaraan manusia di hadapan Allah SWT. Pakaian tanpa jahitan itu menjadi pengingat bahwa saat menghadap Sang Pencipta kelak, manusia tidak membawa apa pun kecuali amal kebaikannya.
Harapan bagi Civitas Akademika
Pelepasan ini ditutup dengan doa bersama untuk keselamatan dan kelancaran para calon jamaah. Isak tangis haru mewarnai sesi mushafahah (bersalam-salaman) antara jamaah yang akan berangkat dengan rekan sejawat yang melepas.
Keberangkatan tim kesehatan dari FKIK UIN Malang diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam menekan angka kesakitan jamaah haji Indonesia, sekaligus membawa keberkahan bagi institusi. Pihak fakultas berharap, sekembalinya dari tanah suci, para jamaah dan petugas dapat membawa semangat baru dalam bekerja dan berkhidmat di dunia pendidikan serta kesehatan.
Dengan persiapan spiritual melalui bimbingan manasik dan persiapan fisik yang matang, FKIK UIN Maliki Malang melepas duta-dutanya untuk menjemput ridha Allah di Baitullah pada musim haji 1447 H ini.





