MIU Login

DARI LABORATORIUM KE FORUM INTERNASIONAL: LGTC BATCH 2 DEMA FKIK UIN MALANG BAWA RISET SABUN MIMBA KE PLANAR 2026

Rangkaian riset yang dimulai sejak 25 Juni 2026, diimplementasikan kepada masyarakat pada 12 Agustus 2026, dan berlanjut menjadi luaran ilmiah yang dipresentasikan pada 2 September 2026 dalam 6th PLANAR: International Pharmacy Ulul Albab Conference & Seminar 2026

Malang, 4 September 2026 — Dewan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (DEMA FKIK) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang melalui Divisi Penelitian dan Pengembangan (Litbang) kembali menorehkan capaian melalui program Litbang Goes to Community (LGTC) Batch 2. Setelah melalui proses penelitian di laboratorium dan implementasi hasil riset kepada masyarakat, luaran penelitian sabun berbasis mimba berhasil dipresentasikan pada 6th PLANAR: International Pharmacy Ulul Albab Conference & Seminar 2026 yang dilaksanakan pada 2 September 2026.

Capaian ini menjadi tahap lanjutan dari rangkaian LGTC Batch 2 yang telah berjalan sejak 25 Juni 2026. Penelitian dilaksanakan dengan pendampingan apt. Mayu Rahmayanti, S.Farm., M.Sc. dan berfokus pada pengembangan sabun batang berbasis bahan alam, khususnya mimba (Azadirachta indica A. Juss.), melalui tahapan formulasi, evaluasi karakteristik fisik, hingga penilaian penerimaan pengguna. Pendampingan tersebut berlanjut hingga tahap penyusunan dan diseminasi luaran ilmiah pada PLANAR 2026.

Pada 12 Agustus 2026, penelitian tersebut memasuki tahap implementasi lapangan di MA Annur 3 Bululawang, Kabupaten Malang. Formula sabun terpilih digunakan dalam evaluasi pemakaian langsung dan uji hedonik, sekaligus diintegrasikan dengan edukasi kebersihan tangan. Dengan demikian, alur kegiatan tidak berhenti pada pembuatan produk di laboratorium, tetapi bergerak menuju pengujian bersama pengguna dan diseminasi hasil kepada masyarakat.

Gambar 1. Tim LGTC Batch 2 DEMA FKIK UIN Malang bersama luaran poster penelitian pada ajang PLANAR 2026.

Salah satu luaran utama yang dipresentasikan berjudul “Cold-Processed Neem Seed Oil Bar Soap: Laboratory Characteristics and Actual-Use Hedonic Acceptability.” Poster ini merangkum karakterisasi sabun minyak biji mimba dan evaluasi penerimaan pengguna setelah pemakaian langsung. Hasil akhir menunjukkan sabun memiliki pH 10,12, tinggi busa 16,2 cm, dan stabilitas busa 86,4%. Pada evaluasi hedonik, kemudahan pembilasan memperoleh respons positif tertinggi sebesar 86,8%, diikuti rasa pada kulit setelah dua menit sebesar 77,4%, sedangkan tingkat kesukaan keseluruhan mencapai 71,7%. Sebanyak 88,7% panelis menyatakan bersedia menggunakan produk.

Temuan tersebut juga memperlihatkan sisi yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Penerimaan terhadap warna dan aroma masih lebih rendah dibandingkan atribut penggunaan lainnya. Bagi tim, hasil ini penting karena menunjukkan bahwa performa laboratorium dan pengalaman pengguna merupakan dua dimensi yang saling melengkapi dalam pengembangan sediaan. Data teknis dapat menunjukkan kestabilan dan karakteristik produk, sedangkan penilaian pengguna membantu menentukan aspek sensori yang perlu disempurnakan.

Gambar 2. Tim mahasiswa pada sesi dokumentasi bersama poster hasil penelitian di area utama PLANAR 2026.

Selain penelitian minyak biji mimba, forum PLANAR 2026 juga menampilkan luaran riset sabun ekstrak daun mimba berjudul “Neem Leaf Extract Soap as a Potential Antibacterial Agent: Formulation, Characterization, Stability Testing, and Review of Ingredient Halal Status.” Penelitian ini mengevaluasi beberapa variasi komposisi fase minyak, karakteristik organoleptik, pH, tinggi dan stabilitas busa, serta meninjau titik kritis halal bahan yang digunakan. Berdasarkan poster yang dipresentasikan, nilai pH seluruh formula berada pada rentang 9,89–10,90 dan formula F2 dipilih sebagai formula optimum berdasarkan keseimbangan karakteristik fisiknya.

Kehadiran dua tema penelitian berbasis mimba pada forum yang sama memperlihatkan bagaimana satu bahan alam dapat dieksplorasi melalui pendekatan yang berbeda. Penelitian minyak biji mimba menekankan hubungan antara karakterisasi laboratorium dan penerimaan aktual pengguna, sedangkan penelitian ekstrak daun mimba menekankan optimasi formulasi, stabilitas, serta peninjauan aspek halal bahan. Keduanya memperkuat arah pengembangan riset mahasiswa yang tidak sekadar menghasilkan prototipe, tetapi juga menyusun data yang dapat dikomunikasikan dalam forum ilmiah.

Gambar 3. Dua luaran poster ilmiah bertema sabun berbasis mimba yang dipresentasikan pada 6th PLANAR 2026.

Keikutsertaan pada PLANAR 2026 yang dilaksanakan pada 2 September 2026 menjadi capaian penting karena menempatkan hasil kegiatan LGTC Batch 2 pada tahapan diseminasi ilmiah. Rangkaian kegiatan kini membentuk alur yang utuh: penelitian dimulai di laboratorium, formula dievaluasi, produk diimplementasikan kepada masyarakat, respons pengguna dihimpun, lalu hasilnya disusun menjadi luaran ilmiah untuk dipresentasikan pada forum akademik.

Model ini menunjukkan bahwa kegiatan penelitian mahasiswa dapat dikembangkan secara bertahap dan berorientasi pada luaran. Implementasi kepada masyarakat bukan menjadi titik akhir, melainkan bagian dari proses validasi pengalaman pengguna dan sumber data yang dapat memperkuat penyusunan karya ilmiah. Sebaliknya, forum ilmiah memberikan ruang bagi mahasiswa untuk mempertanggungjawabkan metode, menjelaskan hasil, serta menerima masukan dari lingkungan akademik yang lebih luas.

Gambar 4. Tim mahasiswa saat rangkaian penelitian dan pengembangan sabun berbasis mimba di laboratorium.

Capaian ini sekaligus mempertegas semangat LGTC Batch 2 untuk menghubungkan tiga ruang yang sering kali berjalan terpisah, yaitu laboratorium, masyarakat, dan forum ilmiah. Penelitian yang dikerjakan mahasiswa tidak hanya diarahkan untuk memenuhi proses akademik, tetapi juga untuk menghasilkan produk yang dapat dievaluasi, memberikan pengalaman belajar berbasis masyarakat, dan dikembangkan menjadi karya ilmiah yang layak didiseminasikan.

Ke depan, hasil evaluasi yang telah diperoleh dapat menjadi dasar untuk penyempurnaan formulasi, khususnya pada atribut sensori seperti warna dan aroma, sekaligus mendorong pengembangan riset lanjutan dengan desain pengujian yang lebih luas. Dengan kesinambungan tersebut, LGTC diharapkan terus menjadi ruang bagi mahasiswa FKIK UIN Maulana Malik Ibrahim Malang untuk membangun budaya riset yang aplikatif, kritis, dan memiliki keluaran ilmiah yang terukur.

Dari laboratorium menuju masyarakat, lalu kembali dibawa ke ruang akademik internasional, perjalanan LGTC Batch 2 pada 2026 menjadi bukti bahwa sebuah riset mahasiswa dapat tumbuh melalui proses yang berkelanjutan. Presentasi pada PLANAR 2026 bukan hanya menjadi penutup rangkaian kegiatan, tetapi juga menjadi pijakan untuk pengembangan penelitian dan diseminasi ilmiah berikutnya.

Malang, 4 September 2026

Dibuat oleh,

Helmi Syahrizal Iskandar

Ketua Litbang Goes to Community (LGTC) Batch 2

Berita Terkait