تسجيل دخول MIU

Di Antara Laboratorium, Langit Bangkok, dan Sebuah Keluarga Kecil

Ada perjalanan yang kita rencanakan dengan sangat rinci, tetapi tidak pernah benar-benar kita tahu akan membawa kita menjadi siapa ketika perjalanan itu berakhir. Juli 2026 menjadi salah satu bab yang tidak pernah saya bayangkan akan memiliki tempat sebesar ini dalam hidup saya. Berangkat dari Surabaya menuju Thailand untuk menjalani internship di King Mongkut’s University of Technology Thonburi (KMUTT), saya datang bukan hanya membawa koper dan sebuah proyek penelitian, tetapi juga rasa ingin tahu, sedikit kecemasan, dan harapan untuk pulang sebagai seseorang yang berbeda.

Perjalanan dimulai dari Bandara Internasional Juanda, Surabaya, menuju Suvarnabhumi International Airport, Bangkok. Bahkan sebelum perjalanan benar-benar dimulai, Thailand sudah memberikan cerita pertamanya. Saat melewati imigrasi, terjadi miskomunikasi mengenai paspor yang kami bawa. Untuk beberapa saat, rasa panik mulai muncul, berada di negeri orang, tengah malam, dan berhadapan dengan prosedur yang tidak sepenuhnya kami pahami. Untungnya, kakak tingkat kami yang berada di sana segera membantu hingga semuanya dapat diselesaikan. Dari bandara, perjalanan dilanjutkan menuju apartemen kami di kawasan Thung Khru 61. Hampir satu setengah jam perjalanan kami lalui dalam gelapnya malam Bangkok. Saat itu saya hanya melihat lampu-lampu kota dari balik kaca kendaraan, sambil menyadari satu hal: saya benar-benar sedang berada jauh dari rumah. Namun ternyata, perjalanan sesungguhnya baru saja dimulai.

Hari-hari pertama di KMUTT dibuka dengan حفل الافتتاح oleh pimpinan School of Bioresources and Technology. Ada perasaan bangga sekaligus gugup ketika menyadari bahwa saya kini berada di lingkungan akademik yang sebelumnya hanya saya kenal dari layar dan literatur. Setelah seremoni, saya langsung diperkenalkan dengan laboratorium dan mendapatkan briefing mengenai proyek yang akan saya jalankan di Gene Technology Laboratory, yaitu “Effect of SrLE (SRLactone Esterase) Overexpression with mdr1 Knockout Cassette Construction of Starmerella riodocensis on Sophorolipid (SLs) Production and Antibiofilm Activity Against Candida albicans ATCC 9002.” Bagi orang lain, judul tersebut mungkin hanya terlihat seperti rangkaian istilah ilmiah yang panjang. Namun bagi saya, judul itu menjadi sebuah perjalanan tersendiri tentang rekonstruksi gen, teknik molekuler, produksi sophorolipid, hingga bagaimana pendekatan bioteknologi dapat diarahkan untuk menghasilkan aktivitas antibiofilm terhadap Candida albicans.

Setiap minggu memiliki tantangannya sendiri. Ada progres yang harus dicapai, eksperimen yang harus diulang, hasil yang harus dianalisis, dan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Namun saya tidak pernah benar-benar menjalani semuanya sendirian. Saya didampingi oleh para senior dari jenjang S2, S3, hingga post-doctoral yang mengajarkan bukan hanya bagaimana melakukan eksperimen, tetapi juga bagaimana bekerja secara profesional di dalam laboratorium, berdiskusi mengenai rekonstruksi gen, memahami teknik analisis secara komprehensif, dan berpikir kritis terhadap setiap data yang dihasilkan. Professor yang menjadi supervisor saya juga merupakan sosok yang sangat saya kagumi: open-minded, cerdas, kritis, sekaligus tegas terhadap anak bimbingannya. Dari beliau saya belajar bahwa mentor yang baik bukanlah seseorang yang selalu mengatakan bahwa kita sudah cukup baik, tetapi seseorang yang berani menunjukkan bahwa kita masih dapat menjadi jauh lebih baik.

Hal lain yang paling berkesan justru datang dari manusia-manusia yang saya temui. Saya sempat berpikir bahwa perbedaan bahasa, budaya, dan latar belakang akan menjadi batas. Ternyata saya salah. Di laboratorium itu, batas-batas tersebut perlahan menghilang. Saya bertemu dengan mahasiswa intern dari berbagai negara, termasuk Thailand dan Jepang. Di sela-sela menunggu larutan yang sedang berputar di mesin shaker, kami bertukar cerita tentang negara masing-masing, keluarga, kehidupan kampus, makanan, hingga mimpi yang ingin kami capai. Waktu menunggu yang mungkin bagi orang lain terasa biasa, bagi kami justru menjadi ruang untuk saling mengenal. Saya kemudian menyadari bahwa salah satu keindahan ilmu pengetahuan adalah kemampuannya mempertemukan manusia yang berasal dari tempat yang berbeda, lalu membuat mereka berbicara dalam bahasa yang sama: rasa ingin tahu. Tidak ada lagi sekat Indonesia, Thailand, ataupun Jepang; yang ada hanyalah sekelompok anak muda yang sedang belajar, bereksperimen, tertawa, dan mencoba memberikan sesuatu yang berarti melalui ilmu yang mereka miliki.

Memasuki minggu kedua, laboratorium kami juga menyelenggarakan seminar mengenai entrepreneurship dan skill development. Di sana saya mendapatkan sebuah perspektif baru bahwa ilmu pengetahuan tidak seharusnya berhenti di balik pintu laboratorium. Sebuah inovasi tidak akan memberikan dampak apabila hanya menjadi data yang tersimpan di komputer atau hasil penelitian yang berhenti pada sebuah publikasi. Kita juga perlu belajar bagaimana menawarkan sebuah ide, memimpin, berbicara di depan publik, membangun jejaring, dan membawa inovasi agar dapat memberikan manfaat yang lebih luas. Hari itu saya belajar bahwa menjadi seorang ilmuwan bukan hanya tentang seberapa banyak yang kita ketahui, tetapi juga seberapa jauh kita mampu membawa pengetahuan tersebut keluar dari laboratorium.

Namun hidup di Thailand tentu tidak hanya tentang laboratorium. Di sela-sela kesibukan, akhir pekan menjadi waktu untuk mengenal Bangkok, kota yang bising, padat, terkadang melelahkan, tetapi pada saat yang sama begitu hidup dan indah. Sebelum berangkat, kami telah menyusun banyak itinerary dan satu per satu mencoba mewujudkannya. Kami menyusuri Chao Phraya River dan menikmati dinner cruise, mengunjungi ICONSIAM, Terminal 21 Asok, Song Wat Road, Wat Pho, Benjakitti Park, Central Park, Pratunam Market, hingga CentralWorld. Ada hari-hari ketika kami berjalan begitu jauh hanya untuk menemukan satu tempat dalam daftar perjalanan, berhenti untuk mengambil foto, mencoba makanan baru, tertawa bersama, dan tentu saja mencari oleh-oleh untuk orang-orang yang menunggu di rumah. Bangkok juga sempat memberikan cerita lucu sekaligus menegangkan ketika saya pergi sendiri dan sempat tersesat hingga kehilangan arah pada malam hari. Rasa takut tentu sempat muncul, tetapi akhirnya saya dibantu oleh seorang warga lokal yang dapat berbahasa Inggris. Dari kejadian sederhana itu, saya belajar bahwa ketika berada jauh dari rumah, kita tidak pernah benar-benar sendirian. Selalu ada kebaikan dari orang lain yang datang pada saat yang tidak kita duga.

Tanpa terasa, sampailah pada lab meeting terakhir. Hari itu saya harus mempresentasikan seluruh hasil proyek yang telah saya kerjakan selama berada di laboratorium. Semua hasil eksperimen, proses, tantangan, dan pembelajaran harus saya sampaikan dalam bahasa Inggris, di hadapan professor dan seluruh anggota laboratorium. Jujur, saya gugup. Ada detak jantung yang terasa lebih cepat ketika harus menjelaskan hasil penelitian dan menghadapi pertanyaan secara langsung. Namun di balik rasa gugup itu, ada perasaan lain yang jauh lebih besar: saya sadar bahwa ini adalah hari terakhir saya di laboratorium. Hari terakhir melihat meja kerja, berdiskusi dengan teman-teman, melakukan eksperimen, dan menjadi bagian dari rutinitas kecil yang selama beberapa minggu terasa begitu biasa, tetapi ternyata akan menjadi sesuatu yang sangat saya rindukan.

Setelah presentasi selesai, suasana berubah. Tidak ada lagi ketegangan, yang tersisa adalah tawa, pelukan, es krim, dan makanan khas Thailand seperti tom yum. Kami duduk bersama, mengingat kembali perjalanan yang telah kami lalui, tentang eksperimen yang berhasil, eksperimen yang gagal, kesalahan-kesalahan kecil, lelucon di laboratorium, hingga perjalanan mengelilingi Bangkok. Kemudian, sebuah kejutan kecil datang. Teman-teman memberikan saya hadiah berupa LEGO dan makanan khas Thailand untuk dibawa pulang. Sederhana, tetapi bagi saya begitu berarti. Karena hadiah itu bukan sekadar benda, melainkan potongan kecil dari tempat yang untuk sementara waktu pernah saya sebut rumah.

Hari itu langit Bangkok mendung. Entah mengapa, saya merasa langit seperti sedang memahami perasaan saya. Pukul 18.00, saya menaiki bus terakhir dari KMUTT. Perlahan, kampus itu semakin jauh dari pandangan. Saya menatapnya untuk terakhir kali dengan perasaan yang sulit dijelaskan, sedih karena harus meninggalkan tempat yang telah memberikan begitu banyak cerita, tetapi sekaligus penuh rasa syukur karena pernah menjadi bagian darinya. Saya akhirnya mengerti bahwa setiap pertemuan memang memiliki perpisahan, tetapi perpisahan tidak selalu berarti akhir. Sebab ada pertemuan yang tidak dimaksudkan untuk berlangsung selamanya; ada yang datang untuk mengajarkan sesuatu, memperluas cara pandang, meninggalkan kenangan, dan diam-diam mengubah arah hidup kita.

Thailand mengajarkan saya bahwa perjalanan bukan hanya tentang seberapa jauh kaki membawa kita dari rumah, tetapi tentang seberapa jauh perjalanan itu membawa kita masuk ke dalam diri sendiri. Saya datang ke Thailand dengan membawa sebuah proyek penelitian, tetapi saya pulang membawa lebih dari sekadar hasil eksperimen. Saya membawa keberanian untuk mencoba, cara berpikir yang lebih kritis, perspektif baru tentang ilmu pengetahuan, cerita tentang orang-orang dari berbagai penjuru dunia, serta keyakinan bahwa dunia ternyata jauh lebih luas daripada apa yang selama ini saya lihat dari tempat saya berdiri.

Mungkin suatu hari nanti saya akan kembali ke Thailand. Mungkin ke KMUTT, mungkin ke laboratorium yang sama, atau mungkin ke tempat yang sama sekali berbeda. Namun jika suatu hari saya kembali, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah benar-benar kembali sebagai orang yang sama. Karena ada tempat-tempat yang kita tinggalkan, tetapi tidak pernah benar-benar meninggalkan kita. Dan KMUTT adalah salah satunya. Terima kasih, Thailand, untuk malam pertama yang penuh kecemasan, laboratorium yang penuh pembelajaran, kota yang penuh kejutan, orang-orang baik yang hadir tanpa diduga, tawa yang tercipta di sela-sela eksperimen, dan sebuah perpisahan yang mengajarkan saya arti pulang. Sebab pada akhirnya, perjalanan terbaik bukanlah perjalanan yang membuat kita menemukan tempat baru, melainkan perjalanan yang membuat kita menemukan versi baru dari diri kita sendiri.

أخبار ذات صلة